• Garam himalaya. [IST]

Masyarakat Perlu Waspada terhadap Peredaran Garam Himalaya yang Tak Ber-SNI

Masyarakat Perlu Waspada terhadap Peredaran Garam Himalaya yang Tak Ber-SNI

Wed, 06/16/2021 - 17:21
Posted in:
0 comments

MAU garam premium yang dipercaya punya banyak khasiat? Sebagian kalangan mampu tentu sudah familier dengan garam yang disebut sebagai garam himalaya ini. Tergiur khasiatnya mereka mencoba mengganti garam beryodium yang biasanya beredar di pasaran dan menggantinya dengan garam himalaya tersebut.

Garam yang berwarna merah muda ini berasal dari pegunungan Himalaya, Pakistan. Garam ini berasal dari pegunungan sebagai hasil dari peristiwa alam subduksi lempeng bumi yang mengakibatkan himalaya yang dulu aslinya lautan menjadi pegunungan tertinggi di dunia.

Konon garam ini lebih sehat daripada garam meja biasa. Sayangnya, di Indonesia peredaran garam ini banyak dipalsukan. Atau kalau toh ada yang mengklaim sebagai resmi atau legal, pada kenyataannya tidak mengantongi izin edar dan berstandar nasional Indonesia (SNI).

Kepala Balai Pengawasan Tertib Niaga (BPTN) Bekasi, Nugroho meminta masyarakat untuk lebih jeli dalam memilih garam. Sebab, garam impor yang tak berstandar SNI itu kualitasnya tak bisa dijamin.

“Tahun lalu kami dari Direktorat Jendral Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga terpaksa memusnahkan 2,5 ton garam himalaya yang tak punya SNI,” kata Nugroho ketika ditemui di kantornya, Rabu (16/06/2021).

Banyak masyarakat yang tergiur karena ada yang menyebut garam ini punya sejumlah kelebihan. Namun, garam yang berasal dari pegunungan (bukan di pinggir laut) itu belum bisa dijamin tingkat keamanannya, karena belum punya standar yang ditetapkan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perdagangan sebagai pihak yang diberi wewenang memeriksa produk impor yang beredar di Indonesia.

Garam himalaya yang pernah disita dan dimusnahkan di Cikarang itu menurut Nugroho berasal dari impor. Garam himalaya yang strukturnya masih kasar itu kemudian digiling dan dikemas sesuai pasar Indonesia.

Dalam pemeriksaan BPTN Bekasi, garam yang beredar tersebut tidak memiliki kode MD (makanan dalam negeri) yang menjadi identitas legal di peredaran. Karenanya, BPTN kemudian menariknya dan memusnahkannya.

Keuntungan Menjanjikan

>
- Penyitaan garam himalaya tak ber-SNI 2020 lalu. [ANT]
 

Dari sejumlah artikel tentang garam himalaya disebutkan begitu banyak kelebihannya bila dibandingkan garam meja pada umumnya. Salah satunya kandungan mineralnya yang lebih kaya karena di dalamnya terdapat kalium, magnesium, dan kalium. Itulah yang membuat berwarna merah muda ini secara bisnis cukup menjanjikan.

Melansir laman Very Well Fit, selain dari segi tampilan baik warna dan ukuran, nutrisi garam himalaya dan garam meja juga berbeda.

Garam meja pada umumnya memiliki kandungan natrium yang lebih tinggi, sedangkan garam himalaya lebih tinggi kandungan mineral lainnya. Dalam satu gram garam meja terkandung kurang lebih 381 miligram natrium dan 0,01 miligram zat besi. Sementara dalam satu gram garam himalaya terkandung 368 miligram natrium dan 0,03 miligram zat besi.

Kelebihan lain adalah garam ini mampu mempercantik tampilan makanan, juga mengurangi risiko kadar gula darah yang tinggim, hipertenti, dan lainnya.

Konon garam himalaya dipercaya dapat menurunkan berat badan karena memiliki kadar natrium yang lebih sedikit, mengutip laman Medical News Today.  Namun hingga saat ini klaim tersebut masih belum memiliki bukti yang kuat.

Sayang, di balik semua kelebihan itu garam himalaya tidak mengandung yodium, zat yang sangat dibutuhkan tubuh. Padahal, ini sangat penting, khususnya di usia pertumbuhan. Mungkin inilah yang membuat garam himalaya ini sampai sekarang tak kunjung mengantungi SNI.

Sebagai garam yang ‘premium’, sejumlah pihak mencoba menjualnya secara ilegal. Termasuk memasukkannya ke supermarket kelas atas. Harganya pun puluhan lipat lebih mahal. Dalam kemasan 0,5 kg saja, bisa mencapai Rp50.000.

BPTN Bekasi akan terus memantau peredaran garam himalaya ini di sejumlah tempat penjualan. Masyarakat juga diminta untuk proaktif dan melaporkan bilamana diketemukan produk garam yang tanpa SNI atau kode MD dalam bungkusnya ini ke BPTN Bekasi.

Untuk diketahui BPTN Bekasi yang pembentukannya berdasarkan Permendag No.81 tahun 2020 ini beralamat di Jl. Boulevard Selatan E-06 Sinpasa Commercial Center, Summarecon Bekasi sebagai balai besar yang berada di bawah naungan Direktorat Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (Ditjen PKTN) akan cepat tanggap merespon setiap keluhan masyarakat.

Bukan saja persoalan garam, tapi juga minuman beralkohol, bahan kebutuhan pokok, mulai dari daging sapi, bawang putih, sampai peralatan kesehatan dan lainnya.

//[MT001]***