• Maket bandara NYIA. -IST-

Bandara Baru Jogja: Kado Akhir Masa Jabatan Jokowi-JK

Bandara Baru Jogja: Kado Akhir Masa Jabatan Jokowi-JK

Sun, 01/27/2019 - 14:49
Posted in:
0 comments

Pada bulan Januari 2017 lalu, Presiden Jokowi meresmikan dimulainya proyek pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA). Dia memberi target, April tahun ini sudah ada pesawat mendarat di sana. Mungkinkah itu dilakukan?

Ini bukan kisah Bandung Bondowoso, yang membangun Candi Prambanan dalam waktu semalam atas permintaan Roro Jonggrang. Ini adalah tekad Jokowi yang ingin mengakhiri periode kekuasannya bersama Jusuf Kalla, dengan kado sebuah bandara baru bagi masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Jika dihitung sejak kehadiran Jokowi, bandara itu hanya akan butuh 28 bulan sampai siap menerima penumpang pertama kali.

Faik Fahmi, Direktur Utama PT Angkasa Pura I mengatakan, rencana penerbangan pertama di April 2019 masih menjadi prioritas.

“Kalau kontrak pelaksanaan pekerjaan Kulonprogo dengan PP selesai 2020 bulan Juni. Tetapi penyelesaian 100 persen ada di bulan Desember 2019. Harapan masyarakat terhadap Bandara NYIA ini cukup besar, jadi kita upayakan secepat mungkin. Menurut perhitungan kita, jadwal penyelesaian runway 100 persen di Bulan April. Dimungkinkan minimum operasi di bulan April. Tetapi faktor penentunya kan banyak, secara teknis ada faktor cuaca dan lainnya,” ujarnya.

Akan ada penambahan pekerja hingga 5 ribu orang untuk mengejar target 50 persen pekerjaan secara keseluruhan. Dengan prosentase itu, runway dan ruang tunggu penumpang sudah dapat digunakan. NYIA akan memiliki panjang landasan 3.250, atau lebih panjang dari Bandara Ngurah Rai di Bali. Kualitas landasan juga lebih kuat dari landasan Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng. Bandara ini akan mampu menerima pesawat terbesar dan terberat, kata Faik.

Dalam kunjungan ke lokasi proyek beberapa waktu lalu, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X menilai pembangunan masih sesuai jadwal. Sultan optimis April nanti bandara dapat dioperasikan, minimal penerbangan internasional. “Ini ada 14 crane yang di pakai, mudah-mudahan lancar pengerjaannya,” kata Sultan.

Janjikan Dukung Sektor Pariwisata

DIY adalah salah satu wilayah tujuan wisata utama di Indonesia. Selama ini, kunjungan wisatawan asing belum maksimal karena terbatasnya daya dukung bandara Adi Sucipto. Bandara ini tak mampu menerima pesawat berbadan besar karena landasannya pendek dan tak mungkin diperpanjang karena faktor geografis.

Pemerintah daerah telah membuka wacana bandara baru di kawasan Kulonprogo sejak tahun 2000. Presiden SBY memasukkan proyek ini dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) pada 2011. Jokowi menilai, proyek ini terlalu lambat dan menerbitkan Peraturan Presiden 98/2017 tentang percepatan pembangunan dan pengoperasian bandara di Kulon Progo. "Setiap keputusan apapun pasti ada resiko. Kalau tidak diputuskan, mundar-mundur, tidak akan selesai sampai kapan pun," kata Jokowi ketika meresmikan dimulainya proyek NYIA Januari 2018.

Dalam kunjungan ke Yogyakarta akhir pekan lalu, Menko Perekonomian Darmin Nasution menilai, bandara akan selesai lebih cepat. Awalnya, pemerintah menetapkan Juli 2020 sebagai tenggat pelaksanaan pekerjaan 100 persen. Perhitungan saat ini, proyek telah mencapai 30 persen dan akan menjadi 50-60 persen pada April. Karena itu, dimungkinkan bandara akan jadi sepenuhnya pada akhir tahun. Kehadirannya, kata Darmin, akan memompa sektor wisata.

“Ini perkembangan yang bagus. Ini akan dengan cepat mengubah rute. Kalau tadinya dari luar negeri lewat Jakarta atau Bali, ke depan lewat tengah. Yogya ini daerah turis juga. Turisme di Yogya akan berkembang jauh lebih cepat karena pesawat berbadan lebar akan datang langsung kesini. Ini perkembangan yang baik, dilihat dari konektivitas angkutan udara maupun dampaknya ke masyarakat di sekitar sini,” ujar Darmin.

Hingga saat ini, hanya ada dua rute internasional terbang langsung ke Yogya, yaitu Kualalumpur dan Singapura. Padahal, selain kota Yogyakarta, ada potensi wisata seperti Borobudur dan kawasan sekitarnya yang punya daya tarik internasional. NYIA diharapkan mampu menarik wisatawan karena penerbangan langsung tersedia dari seluruh penjuru dunia. Sektor pariwisata akan mampu mendongkrak bisnis kerajinan, makanan dan sektor pendukung lain.

Darmin berharap, masyarakat dipersiapkan untuk menerima perubahan yang akan terjadi. Dengan demikian, lanjutnya, mereka akan menjadi bagian dari perkembangan dan bukan hanya sebagai penonton.

Transportasi Penunjang Disiapkan

Karena posisinya yang berada di tepi laut jauh dari kota Yogya, pemerintah akan menyediakan sarana transportasi penunjang. Untuk sementara, bus akan menjadi alternatif utama sambil menunggu pembangunan jalur kereta api baru. “Bandara Kulonprogo ini akan beroperasi baik, apabila juga dilengkapi dengan kereta api,” kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di Yogyakarta, Minggu (20/01).

Dalam penjelasannya, Budi Karya Sumadi menyatakan pemerintah telah menyusun sejumlah pilihan. Paling ideal, lanjutnya, adalah pembangunan jalur baru dari bandara hingga ke daerah Kedundang di Kulonprogo, untuk kemudian menyambung dengan jalur kereta Jakarta-Surabaya yang saat ini sudah ada.

“Oleh karenanya kita juga mengaitkannya, saya sudah diskusikan dengan teman-teman di PT KAI, bahwa kereta yang jarak panjang, dari Surabaya, Solo, Madiun, Prwokerto akan berhenti di terminal-terminal ini. Sehingga kalau orang mau umroh atau haji bisa dilayani dari bandara ini. Kita menaruh perhatian yang banyak terhadap bandara ini, agar international connection-nya itu menjadi kekuatan,” kata Budi Karya.

Budi juga menyampaikan, pemerintah akan membangun jalan baru ke arah Borobudur yang tepat berada di utara Kulonprogo. Dengan demikian, akses kawasan wisata di Jawa Tengah ini akan didukung sepenuhnya oleh bandara baru.

Bandara ini juga mampu melayani seluruh kawasan Jawa bagian selatan. Kawasan ini terbentang mulai Banjar di Jawa Barat, kemudian wilayah tengah dan sisi selatan Jawa Tengah, Yogyakarta sendiri hingga kawasan timur seperti Wonogiri hingga Pacitan di Jawa Timur.

//VOA/01